
Jangan Hanya Melihat Api, Lihat Luka yang Mendahuluinya: Seruan Empati dari Konflik Danar
Oleh: Rani Yanti Ngabalin, M.I.Kom,
Malraterkini.com.- Di tengah derasnya arus informasi yang menyoroti kebakaran rumah dalam konflik yang terjadi di Desa Danar, Kecamatan Kei Kecil Timur Selatan, Kabupaten Maluku Tenggara, muncul suara lain yang mengajak publik untuk melihat peristiwa secara lebih utuh dan berimbang.
Melalui sebuah tulisan reflektif, Rani Yanti Ngabalin, M.I.Kom, mengingatkan bahwa di balik gambar-gambar rumah terbakar yang viral, terdapat luka-luka yang lebih dahulu terjadi namun belum banyak tersorot.
Ia menuturkan, sebelum api membakar permukiman warga, sejumlah korban dari pihaknya telah lebih dulu mengalami kekerasan fisik. Beberapa di antaranya terkena panah, menderita luka serius, dan hingga kini masih menunggu penanganan medis lanjutan karena proses rujukan yang belum sepenuhnya tuntas.
“Tidak semua rasa sakit sempat direkam kamera. Ada korban yang masih menahan luka, ada keluarga yang berjaga dalam kecemasan,” tulisnya dalam rilis yang diterima Malraterkini.com, Sabtu (29/3/2026).
Selain itu, duka mendalam juga dirasakan atas meninggalnya seorang warga bernama Aimar. Kepergian korban disebut meninggalkan luka yang sangat berat bagi keluarga dan masyarakat setempat.
Dalam narasinya, dijelaskan bahwa korban bukan sekadar angka dalam daftar, melainkan bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Kondisi korban saat ditemukan disebut memperlihatkan luka serius yang menggambarkan betapa tragisnya peristiwa tersebut.
Meski demikian, Rani menegaskan bahwa tulisannya tidak dimaksudkan untuk memicu kemarahan ataupun membangun kebencian terhadap pihak lain. Sebaliknya, ia mengajak publik untuk melihat seluruh rangkaian peristiwa dengan empati dan keadilan.
“Kami hanya berharap publik memahami bahwa di balik narasi yang ramai beredar, ada sisi lain yang juga layak dilihat,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa dalam konflik, fokus yang hanya tertuju pada dampak akhir seperti kebakaran dapat membentuk opini yang tidak utuh. Padahal, menurutnya, ada korban luka dan kehilangan nyawa yang terjadi lebih dahulu dan juga membutuhkan perhatian.
Seruan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap korban, tanpa memandang latar belakang, berhak dipandang sebagai manusia yang memiliki nilai yang sama. Tidak ada duka yang seharusnya diabaikan, dan tidak ada penderitaan yang layak dipertandingkan.
Di akhir tulisannya, ia mengajak semua pihak untuk menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran penting tentang kemanusiaan.
“Lihatlah peristiwa ini secara utuh. Jangan biarkan sebagian kesedihan menjadi viral, sementara sebagian lainnya tenggelam tanpa suara,” pesannya.
Situasi di wilayah tersebut diharapkan segera kondusif, sementara masyarakat menanti langkah-langkah penanganan yang adil serta pemulihan bagi seluruh korban yang terdampak konflik. (RB)
