Malraterkini.com.- Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara, Bin Raudah Arif Hanoeboen, secara resmi meluncurkan program budaya sekolah aman dan nyaman dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 yang berlangangsung di Taman Landmark Langgur, Jumat 24 April 2026.

Dalam keterangannya kepada awak media, Raudah menegaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari upaya strategis untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang kondusif sekaligus menekan berbagai persoalan sosial di kalangan pelajar, termasuk tawuran.
“Program ini akan kita kolaborasikan bersama berbagai pihak, mulai dari kepolisian, Dinas Perlindungan Anak, kepala satuan pendidikan, tokoh agama hingga tokoh masyarakat. Semua harus bersinergi untuk menciptakan sekolah yang aman dan nyaman,” ujar Raudah di Taman Landmark Langgur, Jumat (24/4/2026).
Raudah menyoroti bahwa persoalan tawuran pelajar menjadi kegelisahan bersama yang harus segera diakhiri. Menurutnya, tindakan anarkis tidak akan pernah menyelesaikan masalah, justru hanya menyisakan kesedihan dan penderitaan.
“Tidak ada masalah yang selesai dengan kekerasan. Yang tersisa hanya kepedihan. Karena itu, mari kita sudahi tindakan-tindakan anarkis dan mulai membangun kebersamaan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Bin Raudah mengapresiasi pembangunan yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara di bawah kepemimpinan Muhamad Thaher Hanubun, yang dinilai berhasil memperkecil kesenjangan pembangunan antarwilayah.
Menurutnya, capaian tersebut harus dijaga dengan memperkuat peran generasi muda sebagai motor penggerak perubahan.
“Generasi muda punya banyak ide dan inovasi. Kalau ini dijaga dan ditularkan, maka tidak ada persoalan yang tidak bisa kita selesaikan. Kuncinya adalah persatuan,” ungkapnya.
Sebagai langkah konkret, Dinas Pendidikan juga akan menggelar diskusi publik bertema transformasi pendidikan di wilayah kepulauan yang melibatkan berbagai organisasi kepemudaan seperti Cipayung, KNPI, dan OKP lainnya.
Selain itu, dalam momentum Hardiknas 2026, pihaknya juga mengangkat tema lokal “Mengukir Adat Kei Menjadi Ilmu, Menenun Bakti bagi Ibu Pertiwi”. Tema ini dinilai sejalan dengan arah kebijakan pendidikan daerah yang mengedepankan integrasi nilai-nilai adat dan kearifan lokal dalam proses pembelajaran.
“Pendidikan tidak boleh lepas dari akar budaya. Kita ingin anak-anak kembali mengenal dan mengamalkan nilai-nilai luhur adat Kei sebagai bagian dari jati diri,” jelasnya.
Ia juga mengakui bahwa sektor pendidikan di Maluku Tenggara masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti pemerataan layanan pendidikan, rendahnya literasi dan numerasi, serta capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang masih perlu ditingkatkan.
Namun demikian, di tengah tekanan efisiensi anggaran, ia menegaskan bahwa semangat dan kinerja tidak boleh menurun.
“Efisiensi bukan berarti kita lemah. Justru ini menjadi tantangan untuk terus berinovasi dan bekerja lebih keras,” katanya.
Rangkaian kegiatan Hardiknas 2026 sendiri diisi dengan berbagai agenda positif, mulai dari jalan santai, senam bersama, lomba kreativitas siswa seperti menggambar, mewarnai, desain poster, hingga lomba bertutur, tarian tradisional, dan pameran UMKM.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara berharap dapat menumbuhkan semangat kebersamaan, kreativitas, serta membangun karakter generasi muda yang unggul dan berbudaya.(RB)
