Malraterkini.com.- Pelayanan kesehatan di Kabupaten Maluku Tenggara sebenarnya sudah punya dasar yang cukup baik. Ada tiga rumah sakit dan 21 puskesmas yang tersebar melayani masyarakat. Namun, ada satu hal yang masih jadi kendala besar: kurangnya tenaga dokter.
Hal ini disampaikan langsung oleh Bupati Maluku Tenggara, Muhammad Thaher Hanubun, saat menghadiri kegiatan Pendampingan Tata Kelola Program Kesehatan di Ballroom Hotel Aurelia Kimson, Rabu (10/6/2026).

Menurut Bupati, kalau semua fasilitas yang ada bisa dimanfaatkan dengan maksimal, pelayanan kesehatan pasti akan jauh lebih baik. “Kesehatan dan pendidikan adalah prioritas utama. Kalau masyarakat sehat, barulah pembangunan daerah bisa berjalan lancar,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi perhatian Kementerian Kesehatan RI dan Universitas Airlangga yang sudah mau mendampingi daerahnya. Sebagai wilayah kepulauan, Maluku Tenggara memang punya tantangan tersendiri. Namun, kondisi perlahan membaik. Dulu listrik hanya ada 12 jam sehari, sekarang di banyak tempat sudah 24 jam penuh—ini sangat membantu jalannya pelayanan medis.
Dari sisi bangunan, sekitar 75 persen puskesmas lama butuh perbaikan, tapi ada empat puskesmas baru yang sudah siap pakai. Bahkan sejak 2020, sudah ada sistem komunikasi agar tenaga kesehatan bisa berkonsultasi langsung dengan rumah sakit rujukan di Ambon.
Tapi soal tenaga medis masih jadi pekerjaan rumah. “Saat ini kami masih butuh tiga dokter umum lagi untuk 21 puskesmas yang ada. Belum lagi dokter gigi, kami butuh sekitar 19 orang agar setiap tempat bisa melayani gigi masyarakat,” jelasnya.

Belum lagi dokter spesialis. Saat ini baru ada satu dokter spesialis penyakit dalam, padahal kebutuhan untuk spesialis lain masih sangat tinggi.
Karena anggaran daerah terbatas, Bupati berharap pemerintah pusat dan pihak terkait bisa terus membantu. “Kami ingin pelayanan kesehatan di sini makin baik dan merata. Kami butuh dukungan, baik untuk memperbaiki gedung maupun mengirimkan tenaga dokter yang mau mengabdi di daerah kami,” pungkasnya.(BR)
