Malraterkini.com.- Pendidikan di Kabupaten Maluku Tenggara kembali menjadi sorotan utama. Bertempat di Lapangan Upacara Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara, Rabu 29 April 2026 digelar forum diskusi besar dengan tajuk “Pendidikan Kepulauan sebagai Pilar Keadilan Sosial: Strategi Transformasi Pendidikan Maluku Tenggara di Tengah Keterbatasan Fiskal dan Tantangan Geografis”.

Acara ini bukan sekadar dialog biasa, melainkan wadah strategis untuk melahirkan solusi nyata demi memajukan dunia pendidikan di tengah kondisi geografis kepulauan dan keterbatasan anggaran yang ada.
Mengusung semangat lokal yang sangat kental, tahun ini diangkat tema yang begitu memukau:
“Mengukir Adat Kei Menjadi Ilmu, Menenun Bakti Bagi Ibu Pertiwi”.
Tema ini menjadi bukti komitmen kuat bahwa pendidikan di Malra tidak hanya mengejar angka akademis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai luhur budaya dan kearifan lokal Adat Kei kepada generasi muda.
Forum ini semakin istimewa karena menghadirkan para pemangku kebijakan dan tokoh masyarakat yang sangat dihormati sebagai narasumber, antara lain
Bin Raudah Arif Hanoeboen, S.E., M.E (Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara)
Ahmad Raharusun, S.Pd., M.Pd (Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malra)
Hyronimus J. S. Dumatubun(Kepala Ohoi Langgur)
Patris Renwarin (Rat Yab Faan)
Bin Raudah Arif Hanoeboen menegaskan betapa pentingnya sinergi antara pemerintah dan unsur adat. Ia bahkan menyampaikan keinginan besar agar forum diskusi strategis ini dijadikan event tahunan.
“Kegiatan ini harus terus berlanjut. Kita jadikan agenda rutin setiap tahun agar transformasi pendidikan di Maluku Tenggara bisa berjalan maksimal dan berkelanjutan,” tegasnya.
Dengan kolaborasi antara birokrasi, keagamaan, dan adat istiadat, Maluku Tenggara optimis mampu mewujudkan keadilan sosial melalui pendidikan yang bermutu dan berbudaya.(RB)
